Banyak startup terjebak hype microservices dan berakhir dengan kompleksitas yang tidak sebanding dengan skalanya.
Monolith Bukan Kata Kotor
Mayoritas unicorn tech dimulai sebagai monolith: Instagram, Shopify, Stack Overflow, Basecamp. Monolith bukan arsitektur yang buruk — hanya berbeda tradeoff.
Kelebihan Monolith
Simple untuk develop, debug, dan deploy
Latency antar komponen minimal (function call)
Tidak perlu choreography atau distributed transaction
Satu codebase, satu deployment, satu monitoring
Kekurangan Monolith
Seiring pertumbuhan, coupling bisa jadi sulit dikontrol
Scaling harus scale seluruh aplikasi, bukan per bagian
Tech stack terikat
Kelebihan Microservices
Scale granular — hanya scale yang butuh resource lebih
Independent deployment per service
Tim yang berbeda bisa pakai tech stack berbeda
Fault isolation — satu service down tidak crash semua
Kekurangan Microservices
Network latency antar service
Distributed transaction yang rumit
Kebutuhan infrastructure yang jauh lebih kompleks
Debugging butuh distributed tracing
Rekomendasi untuk Startup
Mulai dengan modular monolith:
Satu aplikasi, tapi internal dibagi per domain yang jelas
Mudah dipecah jadi microservice nanti jika benar-benar perlu
Kompleksitas jauh lebih rendah
Fokus pada product-market fit dulu